Friday, July 18, 2014

TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3
HIPERPITUARI








Disusun Oleh :
1.      Desi Indah   Purwaningsih
2.      Ety Prebiati
3.      Fery Irawan
4.      Imasda Istiara Purbandiri
5.      Jevirna Surya Intani         
6.      Nurul Afidah
7.      Rian Bisri Mustofa


Akademi Keperawatan ” Yakpermas ” Banyumas
Jl. Raya Jompo Kulon, Sokaraja Banyumas 53181 Telp/Fax. ( 0281 ) 6596816



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Hipofisis merupakan sebuah kelenjar sebesar kacang polong, yang terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika) di dasar otak.  Sela tursika melindungi hipofisa tetapi memberikan ruang yang sangat kecil untuk mengembang. Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong ke atas, seringkali menekan daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan mungkin akan menyebabkan sakit kepala atau gangguan penglihatan. Selain itu banyak gangguan lain yang disebabkan karena kelebihan hormone yang dilepaskan hipofisis yang bisa menghasilkan dampak yang cukup signifikan bagi pasien.
Kelenjar hipofisis kadang disebut kelenjar penguasa karena hipofisis mengkoordinasikan berbagai fungsi dari kelenjar endokrin lainnya. Beberapa hormone hipofisis memiliki efek langsung, beberapa lainnya secara sederhana mengendalikan kecepatan pelepasan hormonnya sendiri melalui mekanisme umpan balik, oleh organ lainnya, dimana kadar hormone endokrin lainnya dalam darah memberikan sinyal kepada hipofisis untuk memperlambat atau mempercepat pelepasan hormonnya. Jenisnya ada Kelenjar hipofisis anterior dan posterior.
hiperpituitarisme adalah sekresi berlebihan hormone hipofisisn anterior. Hiperpituitarisme biasanya mengenai hanya satu jenis hormone hipofisis. Hormon-hormon hipofisis lainya sering di keluarkan dalam kadar yang lebih rendah, Hiperpituitarisme dapat menjadi akibat mal fungsi kelenjar hipofisis atau hipotalamus.


B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah definisi dari hiperpituari
2.      Bagaimana etiologi hiperpituri
3.      Bagaimana manisfestasi klinis dari hiperpiruari
4.      Bagaimana alur patologi dari hiperpituari
5.      Bagaimana penatalaksanaan dan asuhan keperawatan pada hiperpituari


C.    Tujuan

1.      Menjelaskan definisi dari hiperpituitari.
2.      Menjelaskan etiologi dari hiperpituitari.
3.      Menjelaskan manifestari klinis dari hiperpituitari.
4.      Menjelaskan patofisiologi dari hiperpitutari.
5.      Menjelaskan penatalaksanaan dan asuhan keperawatan dari hiperpituitari.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Hiperpituitari

Hiperpituitari adalah suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofisisme sehingga menyebabkan peningkatkan sekresi salah satu hormone hipofise atau lebih yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari . Hormon – hormon hipofisis lainnya sering dikeluarkan dalam kadar yang lebih rendah. (Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Kelenjar Hipofise, Hotma Rumahardo, 2000 : 36)
Hiperpituitari adalah sekresi berlebihan hormone hipofisisn anterior. Hiperpituitarisme biasanya mengenai hanya satu jenis hormone hipofisis. Hormon-hormon hipofisis lainya sering di keluarkan dalam kadar yang lebih rendah (corwin J Elizabeth 2001).

B.     Etiologi

Hiperpituitari dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar hipofisis atau hipotalamus, penyebab mencakup :
1.      Adenoma primer salah satu jenis sel penghasil hormone, biasanya sel penghasil GH,ACTH atau prolakter.
2.      Tidak ada umpan balik kelenjar sasaran, misalnya peningkatan kadar TSH terjadi apabila sekresi kelenjar tiroid menurun atau tidak ada. (Buku Saku Patofisiologis, Elisabeth, Endah P. 2000. Jakarta : EGC)

C.       Manifestasi klinis

1.      Perubahan bentuk dan ukuran tubuh serta organ – organ dalam (seperti tangan, kaki, jari – jari tangan, lidah, rahang, kardiomegali)
2.      Impotensi
3.      Visus berkurang
4.      Nyeri kepala dan somnolent
5.      Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita), infertilitas
6.      Libido seksual menurun
7.      Kelemahan otot, kelelahan dan letargi  (Hotman Rumahardo, 2000 : 39)
8.      tumor yang besar dan mengenai hipotalamus: suhu tubuh, nafsu makan dan tidur bisa terganggu, serta tampak keseimbangan emosi
9.      gangguan penglihatan sampai kebutaan total






D.     Patofisiologi

Hiperfungsi hipofise dapat terjadi dalam beberapa bentuk bergantung pada sel mana dari kelima sel-sel hipofise yang mengalami hiperfungsi. Kelenjar biasanya mengalami pembesaran disebut adenoma makroskopik bila diameternya lebih dari 10 mm atau adenoma mikroskopik bila diameternya kurang dari 10 mm, yang terdiri atas 1 jenis sel atau beberapa jenis sel. Adenoma hipofisis merupakan penyebab utama hiperpituitarisme.penyebab adenoma hipofisis belum diketahui. Adenoma ini hampir selalu menyekresi hormon sehingga sering disebut functioning tumor.

Kebanyakan adalah tumor yang terdiri atas sel-sel penyekresi GH,ACTH dan prolaktin. Tumor yang terdiri atas sel-sel pensekresi TSH-,LH- atau FSH- sangat jarang terjadi. Functioning tumor yang sering di temukan pada hipofisis anterior adalah:

1.      prolactin-secreting tumors ( tumor penyekresi prolaktin ) atau prolaktinoma.
Prolaktinoma (adenoma laktotropin) biasanya adalah tumor kecil, jinak, yang terdiri atas sel-sel pensekresi prolaktin. Gejala khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita usia reproduktif dan dimana terjadi tidak menstruasi, yang bersifat primer dan sekunder,  galaktorea (sekresi ASI spontan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan), dan infertilitas.

2.      somatotroph tumors ( hipersekresi pertumbuhan )
Adenoma somatotropik terdiri atas sel-sel yang mengsekresi hormon pertumbuhan. Gejalah klinik hipersekresi hormon pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi ini.
Misalnya saja pada klien prepubertas,dimana lempeng epifise tulang panjang belum menutup, mengakibatkan pertumbuhan tulang-tulang memanjang sehingga mengakibatkan gigantisme. Pada klien postpubertas, adenoma somatotropik mengakibatkan akromegali, yang ditandai dengan perbesaran ektremitas ( jari, tangan, kaki ), lidah, rahang, dan hidung. Organ-organ dalam juga turut membesar ( misal; kardiomegali).
Kelebihan hormon pertumbuhan menyebabkan gangguan metabolik, seperti hiperglikemia dan hiperkalsemia. Pengangkatan tumor dengan pembedahan merupakan pengobatan pilihan. Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat mengalami perbaikan, namun perubahan tulang tidak mengalami reproduksi.

3.      corticotroph tumors ( menyekresi ardenokortikotrofik /ACTH )
Adenoma kortikotropik terdiri atas sel-sel pensekresi ACTH. Kebanyakan tumor ini adalah mikroadonema dan secara klinis dikenal dengan tanda khas penyakit Cushing’s.

ada dua perubahan fisiologis karena tumor hipofisis:
a.       perubahan yang timbul karena adanya space-occupying mass dalam kranium.
b.      perubahan yang di akibatkan oleh hipersekresi hormone dari tumornya itu sendiri.

Adenoma hipofisis adalah adenoma intraselular (tumor didalam sella tursika ), dengan besar diameter kurang dari 1cm dengan tanda-tanda hipersekresi hormone.

Klasifikasi hipofisis/ adenoma hipofisis.
            1. encapsulated (tidak ada metastasis dalam sella tursika )
            2. invasive ( sella tursika rusak karena metastasis )
            3. mikroadenoma ( encapsulate tumor dengan diameter kurang dari 10 mm )
            4. makroadenoma ( encapsulate tumor dengan diameter lebih dari 10mm).
               
Tumor ini bisa sampai ke suprasellar.
Perubahan neorologis bisa terjadi akibat tekanan jaringan tumor yang semakin membesar.tekanan ini bisa terjadi saraf optic, saraf karnial III (okulomotor ), saraf karnial IV ( troklear ), dan saraf karnial V (trigeminal).tumor yang sangat besar bisa menginfiltrasi hipotalamus.

E.     Penatalaksanaan

1.    Terapi pembedahan (Hipofisektomi melalui nasal atau jalur transkranial )

Tindakan pembedahan adalah cara pengobatan utama. Dikenal dua macam pembedahan tergantung dari besarnya tumor yaitu : bedah makro dengan melakukan pembedahan pada batok kepala (TC atau trans kranial) dan bedah mikro (TESH atau trans ethmoid sphenoid hypophysectomy). Cara terakhir ini (TESH) dilakukan dengan cara pembedahan melalui sudut antara celah infra orbita dan jembatan hidung antara kedua mata, untuk mencapai tumor hipofisis. Hasil yang didapat cukup memuaskan dengan keberhasilan mencapai kadar HP yang diinginkan tercapai pada 70 – 90% kasus. Keberhasilan tersebut juga sangat ditentukan oleh besarnya tumor.

             Pembedahan transphenoidal
Pendekatan transphenoidal sering digunakan dalam melakukan  reseksi suatu adenoma. Sela tursika dicapai melalui sinus sphenoid, dan tumor diangkat dengan bantuan suatu mikroskop bedah. Insisi dibuat antara gusi dan bibir atas. Pendekatan ini pun digunakan untuk memasang implant. Suatu lubang dibuat pada durameter pada jalan masuk sela tursika. Biasanya dirurup dengan lapisan fascia yang diambil dari tungkai, sehingga pasien harus disiapkan untuk insisi tungkai. Penampilan ini dilakukan untuk mencegah bocornya cairan serebrospinal (CSF). Kebocoran CSF dapat terjadi beberapa hari postoperatif tapi harus ditutup. Hidung mungkin mempet dan suatu sling perban ditempatkan dibawahnya untuk mengabsorpsi drainage.

Monitoring terhadap adanya kebocoran CSF perlu dilakukan.
Data-data berikut harus diperhatikan :
1.  Keluhan postnasal drip
2.  Menelan yang konstan
3.  Adanya halo ring pada nasal sling atau balutan (tanda berupa cairan CSF yang jernih disekeliling cairan serosa yang lebih gelap ditengahnya)
4.  Memeriksa ada tidaknya glukosa pada drainase nasal.

Cairan serebrospinal mengandung glukosa, sedangkan cairan nasal tidak. Jika tes glukosa positif, bahan pemeriksaan harus dikirim ke laboratorium untuk konfirmasi lebih lanjut. Jika terdapat kebocoran yang menetap, pasien dianjurkan untuk tirah baring dengan kepala terangkat untuk menggantikan tekanan pada tambalan yang sudah ditentukan. Seringkali kebocoran CSF sembuh dengan sendirinya, tetapi kadang-kadang diperlukan perbaikan dengan tindakan operasi. Aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial harus dihindari.
Nyeri kepala dapat timbul dan dapat diobati dengan analgetik nonnarkotik tau cordein. Nyeri kepala persisten atau rigiditas nuchal (kaku kuduk) dapat memberikan petunjuk akan adanya meningitis dan hal ini harus segera dilaporkan. Karena kemungkinan terjadinya risiko infeksi, maka antibiotik profilaktif dapat diberikan saat preoperatif atau postoperatif.
        Intervensi keperawatan lainnya bagi pasien dengan operasi transphenoidal meliputi hal berikut :
1.   Memberikan cairan peroral dan diet cairan jernih segera setelah pasien sadar dan tak lagi merasa mual setelah tinadakan anastesia.
2.   Meningkatkan diet yang sesuai (anorexia dapat timbul karena menurutnya sensasi penciuman).
3.   Meyakinkan pasien bahwa kehilangan sensasi penciuman hanya sementara dan akan membaik segera setelah penutup hidung nasal sling diangkat.
4.   Memberikan O2 dengan kelembaban tertentu untuk menjaga kelembaban mukosa nasal dan oral.
5.   Melakukan perawatan mulut
a.   Jangan menggosok gigi (untuk mencegah distrupsi benangjahitan).
b.   Menggunakan kapas halus dan lembab pada saat membersihkan gigi.
c.   Sering melakukan bilas mulut.
b.   Pembedahan transfontal
Jika tumor hipofise dibawah tulang-tulang dari sella tursika (ekstra sellar), kraniotoomi dilakukan untuk mendapatkan suatu lapang operasi yang cukup.  Tumor-tumor intraserebral lain, penyakit-penyakit atau trauma terhadap struktur-struktur yang berdekatan dengan hipofise atau dapat menyebabkan disfungsi  hipofise sementara maupun permanen.




2.    Terapi radiasi
             
Indikasi radiasi adalah sebagai terapi pilihan secara tunggal, kalau tindakan operasi tidak memungkinkan, dan menyertai tindakan pembedahan kalau masih terdapat gejala akut setelah terapi pembedahan dilaksanakan.Radiasi memberikan manfaat pengecilan tumor, menurunkan kadar GH , tetapi dapat pula mempengaruhi fungsi hipofisis. Penurunan kadar GH umumnya mempunyai korelasi dengan lamanya radiasi dilaksanakan. Eastment dkk menyebutkan bahwa, terjadi penurunan GH 50% dari kadar sebelum disinar (base line level), setelah penyinaran dalam kurun waktu 2 tahun, dan 75% setelah 5 tahun penyinaran.
Radiasi hipofisis dilakukan pada pasien dengan adenoma hipofisis yang besar yang tidak seluruh tumor bisa di angkat. 80% dari pasien dengan akromegali dapat disembuhkan dengan radiasi. Selain mual dan muntah, efek samping radiasi yang paling sering ditemukan adalah hipopituitarisme.

3.    pemberian obat

Bromocriptine ( parloden ) : suatu dopamine. Merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Pada mikroadenoma, prolaktin dapat normal kembali. Juga diberikan pada klien dengan akromegali, untuk mengurangi ukuran tumor.Observasi efek samping pemberian bromokriptin seperti: hipotensi ortostatik, iritasi lambung, mual, kram abdomen, konstipasi, bila ada efek samping di atas kolaborasi dengan dokter, berikan obat-obatan setelah klien makan (tidak diberikan di antara waktu makan).

F.     Pemeriksaan Diagnostik

1.      Pemeriksaan fungsi target organ
2.      Pemeriksaan ACTH, TSH, FSH dan LH serta hormone nontropik
3.      Tes provokasi dengan menggunakan stimulan atau supresan hormone dan dengan melakukan efeknya terhadap kadar hormone sarum
4.      Foto rongen kepala dan tulang kerang tubuh dengan CT scan
5.      Pengukuran lapang pandang
6.      Tes toleransi glukosa
7.      Tes supresi dengan dexamethason (Hotman Rumahardo, 2000 : 39).









G.     Penyuluhan Kesehatan Pasien Dan Keluarga

Pasien bersama keluarganya memerlukan penyuluhan kesehatan dan dukungan tentang perubahan pada citra tubuh, kecemasan, disfungsi seksual, intoleransi aktifitas dan obat yang diteruskan dirumah. Pasien pascareseksi transfenoidal perlu di beritahu untuk menghindari kegiatan yang bisa mengakibatkan peningkatan tekanan intracranial, misalnya : membungkuk, bersin, batuk dan maneuver valsalva ketika defekasi. Pasien perlu menghindari konstipasi. Pasien memerlukan bantuan ketika melakukan aktifitas hidup sehari-hari karena ia cepat merasa lelah.

H.    Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan pembedahan dilaksanakan. Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi, perawat menjelaskan agar klien menghindari aktivitas yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan, batuk dll. Juga jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat mencegah obstipasi seperti makan makanan tinggi serat, minum air yang cukup, pelunak feses bila diperlukan.
Klien tidak menyikat gigi 1-2 minggu sampai penyembuhan sempurna, cukup berkumur setiap kali setelah makan. Jelaskan bahwa sensasi hilang rasa pada daerah insisi adalah biasa, dapat berlangsung 3- 4 bulan. Oleh karena itu anjurkan klien memeriksakan gusinya untuk mengetahui adanya lesi dan perdarahan dengan menggunakan cermin setiap hari.Setelah operasi, pemberian hormon untuk memepertahankan keseimbangan cairan. Jelaskan penggunaan obat-obatan dan jelaskan pula perlunya tindak lanjut secara teratur.

I.       Asuhan Keperawatan  

1.      Pengkajian
 Pengkajian perawatan secara umum
a.       Pemantauan akan potensial komlikasi kelainan endokrin dan pengelolaannya
b.      Pemantauan akan tanda – tanda dan gejala klinik yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan hormonal
c.       Mengetahui persepsi pasien dan keluarga pasien mengenai masalah kesehatan, pengelolaan dan bantuan yang diperlukan
d.      Menentukan narasumber yang diperlukan pasien dan keluarganyauntuk dapat mengatasi penyakitnya dan untuk pengelolaannya di rumah sakit dan setelah pulang dari rumah sakit
e.        pengkajian psikologis dan sosial





Pengkajian keperawatan secara khusus
a.    Riwayat penyakit
b.    Kaji usia, jenis kelamin dan riwayat penyakit yang sama dalam keluarga
c.    Kaji riwayat penyakit, Tanyakan manifestasi klinis dari peningkatan prolaktin, GH dan ACTH mulai dirasakan
d.   Keluhan utama, melipuse :
1)      Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta organ-organ tubuh seperti jari-jari, tangan, dll.
2)      Dispaneuria dan pada pria disertai dengan impotensia
3)      Nyeri kepala
4)      Libido seksual menurun
5)      Perubahan tingkat energi, kelelahan, dan letargi.
6)      Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman.
7)      Nyeri kepala, kaji P, Q, R, S, T.
8)      Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman penglihatan ganda, dsb.
9)      Kesulitan dalam hubungan seksual.
10)  Perubahan siklus menstruasi ( pada klien wanita ) mencakup keteraturan, kesulitan hamil
e.     Pemeriksaan fisik dan masalah klinik yang sering di jumpai, meliputi :
1)      Amati bentuk wajah, khas apabila ada hipersekresi GH seperti bibir dan hidung besar, dagu menjorok ke depan
2)       Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang tidak tumbuh dengan baik
3)      Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat kompresi saraf optikus, akan dijumpai penurunan visus
4)      Amati perubahan pada persendian dimana klien mengeluh nyeri dan sulit bergerak
5)      Peningkatan perspirasi pada kulit menyebabkan kulit basah karena berkeringat
6)      Suara membesar karena hipertropi laring
7)      Pada palpasi abdomen, didapat hepatomegali dan splenomegali
8)      Hipertensi
9)      Disfagia akibat lidah membesar
10)  Pada perkusi dada dijumpai jantung membesar
11)  Kelemahan
12)  Perubahan nutrisi
13)  Ketidakseimbangan  cairan dan elektrolit
14)   Perubahan karakteristik tubuh
15)   Intoleransi terhadap stress
16)   Ketidakstabilan emosional






 Data Subjektif
1.   Kelemahan dan pola tidur
2.   Pola makan ( fekuensi dan asupan makanan)
3.   Higiene khusus dan kebutuhan untuk bercukur
4.   Riwayat kardiovaskular
5.   Polaintake dan output cairan
6.   Rasa tidak nyaman
7.   Penggunaan obat – obatan
8.   Riwayat reproduksi
9.   Penggunaan medikasi
10. Kelainan endokrin dan pengelolaannya

Data Objektif
1.   Tinggi dan berat badan
2.   Proporsi tubuh
3.   Jumlah dan distribusi masa obat
4.   Distribusi lemak
5.   Pigmentasi kulit
6.   Distribusi rambut


2.  Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik
b.Disfungsi seksual yang berhubungan dengan penurunan libido ; infertilitas impotent
c. Nyeri kepala yang berhubungan dengan penekanan jaringan oleh tumor
d.     Perubahan sensori perseptual (penglihatan) yang berhubungan dengan gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervus optikus

Diagnosa keperawatan tambahan yang juga dijumpai adalah
a.    Nyeri(kepala,punggung) yang berhubungan dengan tekanan jaringan oleh tumor; hormon pertumbuhan yang berlebihan
b.    Takut yang berhubungan dengan ancaman kematian akibat tumor otak
c.    Ansietas yang berhubungan dengan ancaman terhadap perubahan status kesehatan
d.   Koping individu takefektif yang berhuhubungan dengan hilangnya kontrol terhadap tubuh
e.    Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan kelemahan,latergi
f.     Perubahan sensori-persepsual (penglihatan) yang berhubungan dengan gangguan tranmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervu optikus





3.  Intervensi Keperawatan

a. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik
Tujuan:  Dalam waktu 2 sampai 3 minggu klien akan memiliki kembali citra tubuh yang positif

Intervensi keperawatan
Non pembedahan
v  Klien dengan kelebihan GH
1.      Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan perasaannya terhadap perubahan penampilan tubuhnya
2.      Rasional : Agar perawat dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh klien sehubungan perubahan tubuhnya
3.      Bantu klien mengidentifikasi kekuatannya serta segi-segi positif yang dapat dikembangkan oleh klien
          Rasional : Agar klien mampu mengembangkan dirinya kembali

v  Klien dengan kelebihan prolaktin
1.      Yakinlah klien bahwa sebagian gejala dapat berkurang dengan pengobatan ( ginekomastia, galaktorea )
2.      Rasional : agar klien tetap optimis dan berfikir positif selama pengobatan.
3.      Dorong klien untuk mengungkapkan perasaanya

Pemberian obat-obatan
1.      Kolaborasi pemberian obat-obat seperti: bromokriptin (parloden). Merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Pada mikroadenoma, prolaktin dapat normal kembali. Juga diberikan pada klien dengan akromegali, untuk mengurangi ukuran tumor.
2.      Observasi efek samping pemberian bromokriptin seperti: hipotensi ortostatik, iritasi lambung, mual, kram abdomen, konstipasi, bila ada efek samping di atas kolaborasi dengan dokter, berikan obat-obatan setelah klien makan (tidak diberikan di antara waktu makan
3.      Kolaborasi pemberian terapi radiasi. Terapi radiasi tidak diberikan pada hiperpituitarisme akut.partikel alfa atau proton beam sebagai sumber radiasi lebih efektif tetapi responnya lambat
4.      Awasi efek samping terapi radiasi seperti: hipopituitarisme, kerusaka nervus optikus, disfungsi okulomotorius, perubahan lapang pandang






b.       Disfungsi seksual yang berhubungan dengan penurunan libido ; infertilitas impotent.
Tujuan: Klien akan mencapai tingkat kepuasan pribadi dari fungsi seksual
1.      Identifikasi masalah spesifik yang berhubungan dengan pengalaman pada klien terhadap fungsi seksualnya.
Rasional : agar perawat dapat mengetahui masalah seksual klien dan lebih terbuka kepada perawat.
2.      Dorong klien agar mau mendiskusikan masalah tersebut dengan pasangannya.
Rasional : agar klien mendapat hasil mufakat bersama pasangannya.
3.       Kolaborasi pemberian obat – obatan bromokriptin
4.      Bila masalah ini timbul setelah hipofisektomi, kolaborasi pemberian gonadotropin

c.       Nyeri kepala yang berhubungan dengan penekanan jaringan oleh tumor
1.      Dorong klien agar mau mengungkapkan apa yang dirasakan. Rasional : agar perawat mengetahui apa yang dirasakan klien
2.      Kaji skala nyeri
Rasional : untuk mengetahui intensitas dari nyeri dan untuk menentukan intervensi selanjutnya
3.       Berikan tehnik relaksasi dan distraksi
Rasional : pengalihan perhatian dapat mengurangi rasa nyeri.
4.      Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi rasa nyeri.
Rasional : pemberian obat analgetik untuk mengurangi nyeri

d.      Perubahan sensori perseptual (penglihatan) yang berhubungan dengan gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervus optikus.
1.     Dorong klien agar mau melakukan pemeriksaan lapang pandang.       
                     Rasional : agar perawat mengetahui jarak lapang klien

Perawatan Preoperasi
1.      Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan yang dilakukan
2.      Menjelaskan penggunaan tampon hidung selama 2-3 hari pasca operasi. Anjurkan klien bernafas melalui mulut selama pemasangan tampon
3.      Menjelaskan penggunaan balut tekan yang ditempatkan dari bawah hidung, menggosok gigi, batuk, bersin, karena hal ini dapat menghambat penyembuhan luka
4.      Menjelaskan berbagai prosedur diagnostik yang diperlukan sebagai persiapan operasi seperti pemeriksaan neurologik, hormonal, lapang pandang, swab tenggorok untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas
5.      Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan pembedahan dilaksanakan. Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi, perawat menjelaskan agar klien menghindari aktifitas yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan, batuk, dll. Juga jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat mencegah obstipasi seperti makan makanan tinggi serat, minum air yang cukup, pelunak feses bila diperlukan.


Perawatan Pascaoperasi
1.      Amati respon neurologik klien dan catat perubahan penglihatan, disorientasi dan perubahan kesadaran serta penurunan kekuatan motorik ekstrimitas
2.      Amati pula komplikasi pascaoperasi yang lazim terjadi seperti transient insipidus (diabetes insipidus sesaat)
3.      Anjurkan klien untuk melaporkan pada perawat bila terjadi pengeluaran sekret dari hidung
4.      Tinggikan posisi kepala 30-45 derajat
5.       Kaji drainase nasal baik kualitas maupun kuantitas
6.      Hindari batuk, ajarkan klien bernafas dalam, lakukan hygiene oral secara teratur
7.      Kaji tanda-tanda infeksi
8.      Kolaborasi pemberian gonadotropin, kortisol ; sebagai dampak hipofisektomi.
                                                  



BAB III
PENUTUP

a.       Kesimpulan

Hiperpituitari adalah suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi hipofisisme sehingga menyebabkan peningkatkan sekresi salah satu hormone hipofise atau lebih yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari . Hormon – hormon hipofisis lainnya sering dikeluarkan dalam kadar yang lebih rendah.
Kebanyakan adalah tumor yang terdiri atas sel-sel penyekresi GH,ACTH dan prolaktin. Tumor yang terdiri atas sel-sel pensekresi TSH-,LH- atau FSH- sangat jarang terjadi.

b.      Saran


Sebagai seorang perawat hendaknya dapat memahami dan mengeri konsep dari hiperpituari, sehingga nantinya di harapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal pada pasien dengan hiperpituari.