TUGAS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 3
HIPERPITUARI
Disusun Oleh :
1. Desi
Indah Purwaningsih
2. Ety
Prebiati
3. Fery
Irawan
4. Imasda
Istiara Purbandiri
5. Jevirna
Surya Intani
6. Nurul
Afidah
7. Rian
Bisri Mustofa
Jl. Raya Jompo Kulon, Sokaraja Banyumas 53181
Telp/Fax. ( 0281 ) 6596816
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Hipofisis merupakan sebuah kelenjar
sebesar kacang polong, yang terletak di dalam struktur bertulang (sela tursika)
di dasar otak. Sela tursika melindungi hipofisa tetapi memberikan ruang
yang sangat kecil untuk mengembang. Jika hipofisa membesar, akan cenderung mendorong
ke atas, seringkali menekan daerah otak yang membawa sinyal dari mata dan
mungkin akan menyebabkan sakit kepala atau gangguan penglihatan. Selain itu
banyak gangguan lain yang disebabkan karena kelebihan hormone yang dilepaskan
hipofisis yang bisa menghasilkan dampak yang cukup signifikan bagi pasien.
Kelenjar hipofisis
kadang disebut kelenjar penguasa karena hipofisis mengkoordinasikan berbagai
fungsi dari kelenjar endokrin lainnya. Beberapa hormone hipofisis memiliki efek
langsung, beberapa lainnya secara sederhana mengendalikan kecepatan pelepasan
hormonnya sendiri melalui mekanisme umpan balik, oleh organ lainnya, dimana kadar
hormone endokrin lainnya dalam darah memberikan sinyal kepada hipofisis untuk
memperlambat atau mempercepat pelepasan hormonnya. Jenisnya ada Kelenjar
hipofisis anterior dan posterior.
hiperpituitarisme adalah sekresi
berlebihan hormone hipofisisn anterior. Hiperpituitarisme biasanya mengenai
hanya satu jenis hormone hipofisis. Hormon-hormon hipofisis lainya sering di
keluarkan dalam kadar yang lebih rendah, Hiperpituitarisme dapat menjadi akibat mal fungsi
kelenjar hipofisis atau hipotalamus.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari hiperpituari
2. Bagaimana etiologi hiperpituri
3. Bagaimana manisfestasi klinis dari hiperpiruari
4. Bagaimana alur patologi dari hiperpituari
5. Bagaimana penatalaksanaan dan asuhan keperawatan
pada hiperpituari
C.
Tujuan
1. Menjelaskan definisi dari hiperpituitari.
2. Menjelaskan etiologi dari hiperpituitari.
3. Menjelaskan manifestari klinis dari
hiperpituitari.
4. Menjelaskan patofisiologi dari hiperpitutari.
5. Menjelaskan penatalaksanaan dan asuhan keperawatan
dari hiperpituitari.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Hiperpituitari
Hiperpituitari adalah suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi
hipofisisme sehingga menyebabkan peningkatkan sekresi salah satu hormone
hipofise atau lebih yang
dikeluarkan oleh kelenjar pituitari . Hormon – hormon hipofisis lainnya sering dikeluarkan dalam kadar yang
lebih rendah. (Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Kelenjar Hipofise,
Hotma Rumahardo, 2000 : 36)
Hiperpituitari adalah sekresi berlebihan hormone hipofisisn anterior.
Hiperpituitarisme biasanya mengenai hanya satu jenis hormone hipofisis.
Hormon-hormon hipofisis lainya sering di keluarkan dalam kadar yang lebih
rendah (corwin J Elizabeth 2001).
B. Etiologi
Hiperpituitari dapat
terjadi akibat malfungsi kelenjar hipofisis atau hipotalamus, penyebab mencakup
:
1. Adenoma primer salah satu jenis sel penghasil
hormone, biasanya sel penghasil GH,ACTH atau prolakter.
2. Tidak ada umpan balik kelenjar sasaran, misalnya
peningkatan kadar TSH terjadi apabila sekresi kelenjar tiroid menurun atau
tidak ada. (Buku Saku Patofisiologis, Elisabeth, Endah P. 2000. Jakarta : EGC)
C.
Manifestasi klinis
1. Perubahan bentuk dan ukuran tubuh serta organ –
organ dalam (seperti tangan, kaki, jari – jari tangan, lidah, rahang,
kardiomegali)
2. Impotensi
3. Visus berkurang
4. Nyeri kepala dan somnolent
5. Perubahan siklus menstruasi (pada klien wanita),
infertilitas
6. Libido seksual menurun
7. Kelemahan otot, kelelahan dan letargi (Hotman Rumahardo, 2000 : 39)
8. tumor yang besar dan mengenai hipotalamus: suhu
tubuh, nafsu makan dan tidur bisa terganggu, serta tampak keseimbangan emosi
9. gangguan penglihatan sampai kebutaan total
D. Patofisiologi
Hiperfungsi
hipofise dapat terjadi dalam beberapa bentuk bergantung pada sel mana dari
kelima sel-sel hipofise yang mengalami hiperfungsi. Kelenjar biasanya mengalami
pembesaran disebut adenoma makroskopik bila diameternya lebih dari 10 mm atau
adenoma mikroskopik bila diameternya kurang dari 10 mm, yang terdiri atas 1
jenis sel atau beberapa jenis sel. Adenoma hipofisis merupakan penyebab utama
hiperpituitarisme.penyebab adenoma hipofisis belum diketahui. Adenoma ini
hampir selalu menyekresi hormon sehingga sering disebut functioning tumor.
Kebanyakan
adalah tumor yang terdiri atas sel-sel penyekresi GH,ACTH dan prolaktin. Tumor yang
terdiri atas sel-sel pensekresi TSH-,LH- atau FSH- sangat jarang terjadi.
Functioning tumor yang sering di temukan pada hipofisis anterior adalah:
1. prolactin-secreting tumors ( tumor
penyekresi prolaktin ) atau prolaktinoma.
Prolaktinoma (adenoma
laktotropin) biasanya adalah tumor kecil, jinak, yang terdiri atas sel-sel
pensekresi prolaktin. Gejala khas pada kondisi ini sangat jelas pada wanita
usia reproduktif dan dimana terjadi tidak menstruasi, yang bersifat primer dan
sekunder, galaktorea (sekresi ASI
spontan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan), dan infertilitas.
2. somatotroph tumors ( hipersekresi
pertumbuhan )
Adenoma somatotropik
terdiri atas sel-sel yang mengsekresi hormon pertumbuhan. Gejalah klinik
hipersekresi hormon pertumbuhan bergantung pada usia klien saat terjadi kondisi
ini.
Misalnya saja pada
klien prepubertas,dimana lempeng epifise tulang panjang belum menutup,
mengakibatkan pertumbuhan tulang-tulang memanjang sehingga mengakibatkan
gigantisme. Pada klien postpubertas, adenoma somatotropik mengakibatkan
akromegali, yang ditandai dengan perbesaran ektremitas ( jari, tangan, kaki ),
lidah, rahang, dan hidung. Organ-organ dalam juga turut membesar ( misal;
kardiomegali).
Kelebihan hormon
pertumbuhan menyebabkan gangguan metabolik, seperti hiperglikemia dan
hiperkalsemia. Pengangkatan tumor dengan pembedahan merupakan pengobatan
pilihan. Gejala metabolik dengan tindakan ini dapat mengalami perbaikan, namun
perubahan tulang tidak mengalami reproduksi.
3. corticotroph tumors ( menyekresi
ardenokortikotrofik /ACTH )
Adenoma
kortikotropik terdiri atas sel-sel pensekresi ACTH. Kebanyakan tumor ini adalah
mikroadonema dan secara klinis dikenal dengan tanda khas penyakit Cushing’s.
ada dua perubahan
fisiologis karena tumor hipofisis:
a. perubahan yang timbul karena adanya
space-occupying mass dalam kranium.
b. perubahan yang di akibatkan oleh hipersekresi
hormone dari tumornya itu sendiri.
Adenoma hipofisis
adalah adenoma intraselular (tumor didalam sella tursika ), dengan besar
diameter kurang dari 1cm dengan tanda-tanda hipersekresi hormone.
Klasifikasi
hipofisis/ adenoma hipofisis.
1. encapsulated (tidak ada
metastasis dalam sella tursika )
2. invasive ( sella tursika rusak
karena metastasis )
3. mikroadenoma ( encapsulate tumor
dengan diameter kurang dari 10 mm )
4. makroadenoma ( encapsulate tumor
dengan diameter lebih dari 10mm).
Tumor ini bisa sampai ke suprasellar.
Perubahan neorologis
bisa terjadi akibat tekanan jaringan tumor yang semakin membesar.tekanan ini
bisa terjadi saraf optic, saraf karnial III (okulomotor ), saraf karnial IV (
troklear ), dan saraf karnial V (trigeminal).tumor yang sangat besar bisa
menginfiltrasi hipotalamus.
E. Penatalaksanaan
1. Terapi pembedahan (Hipofisektomi melalui nasal atau jalur
transkranial )
Tindakan pembedahan
adalah cara pengobatan utama. Dikenal dua macam pembedahan tergantung dari
besarnya tumor yaitu : bedah makro dengan melakukan pembedahan pada batok
kepala (TC atau trans kranial) dan bedah mikro (TESH atau trans ethmoid
sphenoid hypophysectomy). Cara terakhir ini (TESH) dilakukan dengan cara
pembedahan melalui sudut antara celah infra orbita dan jembatan hidung antara
kedua mata, untuk mencapai tumor hipofisis. Hasil yang didapat cukup memuaskan
dengan keberhasilan mencapai kadar HP yang diinginkan tercapai pada 70 – 90%
kasus. Keberhasilan tersebut juga sangat ditentukan oleh besarnya tumor.
Pembedahan
transphenoidal
Pendekatan
transphenoidal sering digunakan dalam melakukan reseksi suatu adenoma.
Sela tursika dicapai melalui sinus sphenoid, dan tumor diangkat dengan bantuan
suatu mikroskop bedah. Insisi dibuat antara gusi dan bibir atas. Pendekatan ini
pun digunakan untuk memasang implant. Suatu lubang dibuat pada durameter pada
jalan masuk sela tursika. Biasanya dirurup dengan lapisan fascia yang diambil
dari tungkai, sehingga pasien harus disiapkan untuk insisi tungkai. Penampilan
ini dilakukan untuk mencegah bocornya cairan serebrospinal (CSF). Kebocoran CSF
dapat terjadi beberapa hari postoperatif tapi harus ditutup. Hidung mungkin
mempet dan suatu sling perban ditempatkan dibawahnya untuk mengabsorpsi
drainage.
Monitoring terhadap
adanya kebocoran CSF perlu dilakukan.
Data-data berikut harus diperhatikan :
1. Keluhan postnasal drip
2. Menelan yang konstan
3. Adanya
halo ring pada nasal sling atau balutan (tanda berupa cairan CSF yang jernih
disekeliling cairan serosa yang lebih gelap ditengahnya)
4. Memeriksa ada tidaknya
glukosa pada drainase nasal.
Cairan serebrospinal
mengandung glukosa, sedangkan cairan nasal tidak. Jika tes glukosa positif,
bahan pemeriksaan harus dikirim ke laboratorium untuk konfirmasi lebih lanjut. Jika
terdapat kebocoran yang menetap, pasien dianjurkan untuk tirah baring dengan
kepala terangkat untuk menggantikan tekanan pada tambalan yang sudah
ditentukan. Seringkali kebocoran CSF sembuh dengan sendirinya, tetapi
kadang-kadang diperlukan perbaikan dengan tindakan operasi. Aktivitas yang
meningkatkan tekanan intrakranial harus dihindari.
Nyeri kepala dapat
timbul dan dapat diobati dengan analgetik nonnarkotik tau cordein. Nyeri kepala
persisten atau rigiditas nuchal (kaku kuduk) dapat memberikan petunjuk akan
adanya meningitis dan hal ini harus segera dilaporkan. Karena kemungkinan
terjadinya risiko infeksi, maka antibiotik profilaktif dapat diberikan saat
preoperatif atau postoperatif.
Intervensi keperawatan lainnya bagi pasien dengan operasi transphenoidal
meliputi hal berikut :
1. Memberikan
cairan peroral dan diet cairan jernih segera setelah pasien sadar dan tak lagi
merasa mual setelah tinadakan anastesia.
2. Meningkatkan
diet yang sesuai (anorexia dapat timbul karena menurutnya sensasi penciuman).
3. Meyakinkan
pasien bahwa kehilangan sensasi penciuman hanya sementara dan akan membaik
segera setelah penutup hidung nasal sling diangkat.
4. Memberikan
O2 dengan kelembaban tertentu untuk menjaga kelembaban mukosa nasal dan oral.
5. Melakukan
perawatan mulut
a. Jangan menggosok
gigi (untuk mencegah distrupsi benangjahitan).
b. Menggunakan kapas
halus dan lembab pada saat membersihkan gigi.
c. Sering melakukan
bilas mulut.
b. Pembedahan
transfontal
Jika tumor hipofise
dibawah tulang-tulang dari sella tursika (ekstra sellar), kraniotoomi dilakukan
untuk mendapatkan suatu lapang operasi yang cukup. Tumor-tumor
intraserebral lain, penyakit-penyakit atau trauma terhadap struktur-struktur
yang berdekatan dengan hipofise atau dapat menyebabkan disfungsi hipofise
sementara maupun permanen.
2.
Terapi
radiasi
Indikasi radiasi
adalah sebagai terapi pilihan secara tunggal, kalau tindakan operasi tidak
memungkinkan, dan menyertai tindakan pembedahan kalau masih terdapat gejala
akut setelah terapi pembedahan dilaksanakan.Radiasi memberikan manfaat pengecilan tumor,
menurunkan kadar GH , tetapi dapat pula mempengaruhi fungsi hipofisis.
Penurunan kadar GH umumnya mempunyai korelasi dengan lamanya radiasi
dilaksanakan. Eastment dkk menyebutkan bahwa, terjadi penurunan GH 50% dari
kadar sebelum disinar (base line level), setelah penyinaran dalam kurun waktu 2
tahun, dan 75% setelah 5 tahun penyinaran.
Radiasi hipofisis
dilakukan pada pasien dengan adenoma hipofisis yang besar yang tidak seluruh
tumor bisa di angkat. 80% dari pasien dengan akromegali dapat disembuhkan
dengan radiasi. Selain mual dan muntah, efek samping radiasi yang paling sering
ditemukan adalah hipopituitarisme.
3.
pemberian
obat
Bromocriptine ( parloden ) : suatu dopamine. Merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Pada
mikroadenoma, prolaktin dapat normal kembali. Juga diberikan pada klien dengan
akromegali, untuk mengurangi ukuran tumor.Observasi efek samping pemberian
bromokriptin seperti: hipotensi ortostatik, iritasi lambung, mual, kram
abdomen, konstipasi, bila ada efek samping di atas kolaborasi dengan dokter,
berikan obat-obatan setelah klien makan (tidak diberikan di antara waktu
makan).
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan fungsi target organ
2. Pemeriksaan ACTH, TSH, FSH dan LH serta hormone
nontropik
3. Tes provokasi dengan menggunakan stimulan
atau supresan hormone dan dengan melakukan efeknya terhadap kadar hormone sarum
4. Foto rongen kepala dan tulang kerang tubuh
dengan CT scan
5. Pengukuran lapang pandang
6. Tes toleransi glukosa
7. Tes supresi dengan dexamethason (Hotman
Rumahardo, 2000 : 39).
G.
Penyuluhan Kesehatan Pasien Dan Keluarga
Pasien bersama
keluarganya memerlukan penyuluhan kesehatan dan dukungan tentang perubahan pada
citra tubuh, kecemasan, disfungsi seksual, intoleransi aktifitas dan obat yang
diteruskan dirumah. Pasien pascareseksi transfenoidal perlu di beritahu untuk
menghindari kegiatan yang bisa mengakibatkan peningkatan tekanan intracranial,
misalnya : membungkuk, bersin, batuk dan maneuver valsalva ketika defekasi.
Pasien perlu menghindari konstipasi. Pasien memerlukan bantuan ketika melakukan
aktifitas hidup sehari-hari karena ia cepat merasa lelah.
H.
Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan
dilakukan sebelum tindakan pembedahan dilaksanakan. Setelah tindakan
transpenoidal hipofisektomi, perawat menjelaskan agar klien menghindari
aktivitas yang dapat menghambat penyembuhan seperti mengejan, batuk dll. Juga
jelaskan agar klien mengindahkan faktor-faktor yang dapat mencegah obstipasi
seperti makan makanan tinggi serat, minum air yang cukup, pelunak feses bila
diperlukan.
Klien tidak menyikat
gigi 1-2 minggu sampai penyembuhan sempurna, cukup berkumur setiap kali setelah
makan. Jelaskan bahwa sensasi hilang rasa pada daerah insisi adalah biasa,
dapat berlangsung 3- 4 bulan. Oleh karena itu anjurkan klien memeriksakan
gusinya untuk mengetahui adanya lesi dan perdarahan dengan menggunakan cermin
setiap hari.Setelah operasi, pemberian hormon untuk memepertahankan
keseimbangan cairan. Jelaskan penggunaan obat-obatan dan jelaskan pula perlunya
tindak lanjut secara teratur.
I.
Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian perawatan secara umum
a. Pemantauan akan potensial komlikasi
kelainan endokrin dan pengelolaannya
b. Pemantauan akan tanda – tanda dan gejala
klinik yang menunjukkan adanya ketidakseimbangan hormonal
c. Mengetahui persepsi pasien dan keluarga
pasien mengenai masalah kesehatan, pengelolaan dan bantuan yang diperlukan
d. Menentukan narasumber yang diperlukan
pasien dan keluarganyauntuk dapat mengatasi penyakitnya dan untuk pengelolaannya
di rumah sakit dan setelah pulang dari rumah sakit
e. pengkajian psikologis dan sosial
Pengkajian
keperawatan secara khusus
a. Riwayat penyakit
b. Kaji usia, jenis kelamin dan riwayat
penyakit yang sama dalam keluarga
c. Kaji riwayat penyakit, Tanyakan manifestasi klinis dari peningkatan
prolaktin, GH dan ACTH mulai dirasakan
d. Keluhan utama, melipuse :
1) Perubahan ukuran dan bentuk tubuh serta
organ-organ tubuh seperti jari-jari, tangan, dll.
2) Dispaneuria dan pada pria disertai dengan
impotensia
3) Nyeri kepala
4) Libido seksual menurun
5) Perubahan tingkat energi, kelelahan, dan letargi.
6) Nyeri pada punggung dan perasaan tidak nyaman.
7) Nyeri kepala, kaji P, Q, R, S, T.
8) Gangguan penglihatan seperti menurunnya ketajaman
penglihatan ganda, dsb.
9) Kesulitan dalam hubungan seksual.
10) Perubahan siklus menstruasi ( pada klien wanita )
mencakup keteraturan, kesulitan hamil
e. Pemeriksaan fisik dan masalah klinik yang sering di jumpai, meliputi :
1) Amati bentuk wajah, khas apabila ada
hipersekresi GH seperti bibir dan hidung besar, dagu menjorok ke depan
2) Amati adanya kesulitan mengunyah dan geligi yang
tidak tumbuh dengan baik
3) Pemeriksaan ketajaman penglihatan akibat
kompresi saraf optikus, akan dijumpai penurunan visus
4) Amati perubahan pada persendian dimana
klien mengeluh nyeri dan sulit bergerak
5) Peningkatan perspirasi pada kulit
menyebabkan kulit basah karena berkeringat
6) Suara membesar karena hipertropi laring
7) Pada palpasi abdomen, didapat hepatomegali
dan splenomegali
8) Hipertensi
9) Disfagia akibat lidah membesar
10) Pada perkusi dada dijumpai jantung
membesar
11) Kelemahan
12) Perubahan nutrisi
13) Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
14) Perubahan karakteristik tubuh
15) Intoleransi terhadap stress
16) Ketidakstabilan emosional
Data Subjektif
1. Kelemahan dan pola tidur
2. Pola makan ( fekuensi dan
asupan makanan)
3. Higiene khusus dan kebutuhan
untuk bercukur
4. Riwayat kardiovaskular
5. Polaintake dan output cairan
6. Rasa tidak nyaman
7. Penggunaan obat – obatan
8. Riwayat reproduksi
9. Penggunaan medikasi
10. Kelainan endokrin dan pengelolaannya
Data Objektif
1. Tinggi dan berat badan
2. Proporsi tubuh
3. Jumlah dan distribusi masa
obat
4. Distribusi lemak
5. Pigmentasi kulit
6. Distribusi rambut
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan citra tubuh yang berhubungan dengan
perubahan penampilan fisik
b.Disfungsi seksual yang berhubungan dengan
penurunan libido ; infertilitas impotent
c. Nyeri kepala yang berhubungan dengan
penekanan jaringan oleh tumor
d. Perubahan sensori perseptual (penglihatan)
yang berhubungan dengan gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada
nervus optikus
Diagnosa keperawatan tambahan yang juga dijumpai
adalah
a. Nyeri(kepala,punggung) yang berhubungan dengan
tekanan jaringan oleh tumor; hormon pertumbuhan yang berlebihan
b. Takut yang berhubungan dengan ancaman kematian
akibat tumor otak
c. Ansietas yang berhubungan dengan ancaman terhadap
perubahan status kesehatan
d. Koping individu takefektif yang berhuhubungan
dengan hilangnya kontrol terhadap tubuh
e. Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan
kelemahan,latergi
f. Perubahan sensori-persepsual (penglihatan) yang
berhubungan dengan gangguan tranmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervu
optikus
3. Intervensi Keperawatan
a. Perubahan citra
tubuh yang berhubungan dengan perubahan penampilan fisik
Tujuan: Dalam
waktu 2 sampai 3 minggu klien akan memiliki kembali citra tubuh yang positif
Intervensi keperawatan
Non pembedahan
v Klien dengan kelebihan GH
1. Dorong klien agar mau mengungkapkan pikiran dan
perasaannya terhadap perubahan penampilan tubuhnya
2. Rasional : Agar perawat dapat mengetahui apa yang
dirasakan oleh klien sehubungan perubahan tubuhnya
3. Bantu klien mengidentifikasi kekuatannya serta
segi-segi positif yang dapat dikembangkan oleh klien
Rasional
: Agar klien mampu mengembangkan dirinya kembali
v Klien dengan kelebihan prolaktin
1. Yakinlah klien bahwa sebagian gejala dapat
berkurang dengan pengobatan ( ginekomastia, galaktorea )
2. Rasional : agar klien tetap optimis dan
berfikir positif selama pengobatan.
3. Dorong klien untuk mengungkapkan perasaanya
Pemberian obat-obatan
1. Kolaborasi pemberian obat-obat seperti:
bromokriptin (parloden). Merupakan obat pilihan pada kelebihan prolaktin. Pada
mikroadenoma, prolaktin dapat normal kembali. Juga diberikan pada klien dengan
akromegali, untuk mengurangi ukuran tumor.
2. Observasi efek samping pemberian bromokriptin
seperti: hipotensi ortostatik, iritasi lambung, mual, kram abdomen, konstipasi,
bila ada efek samping di atas kolaborasi dengan dokter, berikan obat-obatan
setelah klien makan (tidak diberikan di antara waktu makan
3. Kolaborasi pemberian terapi radiasi. Terapi
radiasi tidak diberikan pada hiperpituitarisme akut.partikel alfa atau proton
beam sebagai sumber radiasi lebih efektif tetapi responnya lambat
4. Awasi efek samping terapi radiasi seperti: hipopituitarisme,
kerusaka nervus optikus, disfungsi okulomotorius, perubahan lapang pandang
b.
Disfungsi
seksual yang berhubungan dengan penurunan libido ; infertilitas impotent.
Tujuan: Klien akan mencapai tingkat
kepuasan pribadi dari fungsi seksual
1. Identifikasi masalah spesifik yang
berhubungan dengan pengalaman pada klien terhadap fungsi seksualnya.
Rasional : agar perawat dapat mengetahui masalah seksual klien dan lebih
terbuka kepada perawat.
2. Dorong klien agar mau mendiskusikan
masalah tersebut dengan pasangannya.
Rasional : agar klien mendapat hasil mufakat bersama pasangannya.
3. Kolaborasi pemberian obat – obatan
bromokriptin
4. Bila masalah ini timbul setelah hipofisektomi,
kolaborasi pemberian gonadotropin
c.
Nyeri kepala
yang berhubungan dengan penekanan jaringan oleh tumor
1. Dorong klien agar mau mengungkapkan apa
yang dirasakan. Rasional : agar perawat mengetahui apa yang dirasakan klien
2. Kaji skala nyeri
Rasional : untuk mengetahui intensitas dari nyeri dan untuk menentukan
intervensi selanjutnya
3. Berikan tehnik relaksasi dan
distraksi
Rasional : pengalihan perhatian dapat mengurangi rasa nyeri.
4. Kolaborasi pemberian analgetik untuk
mengurangi rasa nyeri.
Rasional : pemberian obat analgetik untuk mengurangi nyeri
d. Perubahan sensori perseptual (penglihatan) yang
berhubungan dengan gangguan transmisi impuls akibat kompresi tumor pada nervus
optikus.
1. Dorong klien agar mau melakukan
pemeriksaan lapang pandang.
Rasional
: agar perawat mengetahui jarak lapang klien
Perawatan
Preoperasi
1. Menjelaskan maksud dan tujuan tindakan
yang dilakukan
2. Menjelaskan penggunaan tampon hidung
selama 2-3 hari pasca operasi. Anjurkan
klien bernafas melalui mulut selama pemasangan tampon
3. Menjelaskan penggunaan balut tekan yang
ditempatkan dari bawah hidung, menggosok gigi, batuk, bersin, karena hal ini
dapat menghambat penyembuhan luka
4. Menjelaskan berbagai prosedur diagnostik yang
diperlukan sebagai persiapan operasi seperti pemeriksaan neurologik, hormonal,
lapang pandang, swab tenggorok untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas
5. Pendidikan kesehatan dilakukan sebelum tindakan
pembedahan dilaksanakan. Setelah tindakan transpenoidal hipofisektomi, perawat
menjelaskan agar klien menghindari aktifitas yang dapat menghambat penyembuhan
seperti mengejan, batuk, dll. Juga jelaskan agar klien mengindahkan
faktor-faktor yang dapat mencegah obstipasi seperti makan makanan tinggi serat,
minum air yang cukup, pelunak feses bila diperlukan.
Perawatan
Pascaoperasi
1. Amati respon neurologik klien dan catat perubahan
penglihatan, disorientasi dan perubahan kesadaran serta penurunan kekuatan
motorik ekstrimitas
2. Amati pula komplikasi pascaoperasi yang lazim
terjadi seperti transient insipidus (diabetes insipidus sesaat)
3. Anjurkan klien untuk melaporkan pada perawat
bila terjadi pengeluaran sekret dari hidung
4. Tinggikan posisi kepala 30-45 derajat
5. Kaji drainase nasal baik kualitas maupun
kuantitas
6. Hindari batuk, ajarkan klien bernafas
dalam, lakukan hygiene oral secara teratur
7. Kaji tanda-tanda infeksi
8. Kolaborasi pemberian gonadotropin, kortisol ;
sebagai dampak hipofisektomi.
BAB III
PENUTUP
a.
Kesimpulan
Hiperpituitari adalah suatu kondisi patologis yang terjadi akibat tumor atau hiperplasi
hipofisisme sehingga menyebabkan peningkatkan sekresi salah satu hormone
hipofise atau lebih yang
dikeluarkan oleh kelenjar pituitari . Hormon – hormon hipofisis lainnya sering dikeluarkan dalam kadar yang
lebih rendah.
Kebanyakan
adalah tumor yang terdiri atas sel-sel penyekresi GH,ACTH dan prolaktin. Tumor
yang terdiri atas sel-sel pensekresi TSH-,LH- atau FSH- sangat jarang terjadi.
b.
Saran
Sebagai seorang
perawat hendaknya dapat memahami dan mengeri konsep dari hiperpituari, sehingga
nantinya di harapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang maksimal pada
pasien dengan hiperpituari.